Kamis, 26 November 2015

Sejarah Dan Masuknya Agama Kristen Di Indonesia

Proses masuknya agama kristen ke Indonseia terjadi dalam dua gelombang, yaitu :
Pertama, masuk sejak zaman kuno. Menurut Cosmas Indicopleustes dalam bukunya Topograhica Christina, diceriterakan pada abad ke-6 sudah ada komunitas Kristiani di India Selatan, di pantai Malabar, dan Sri Langka. Dari Malabar itu agama Kristen menyebar ke berbagai daerah. Pada tahun 650 agama Kristen sudah mulai berkembang di Kedah (Semenanjung Malaya) dan sekitarnya. Pada abad ke-9 Kedah berkembang menjadi pelabuhan dagang yang sangat ramai di jalur yang menghubungkan India-Aceh-Barus-Nias melalui Selat Sunda-Laut Jawa dan terus ke Cina. Jalur inilah yang disebut sebagai jalur penyebaran agama Kristen dari India ke Nusantara. Diberitahukan bahwa agama Kristen mulai tumbuh di Barus (Fansur). Di daerah ini terdapat gereja yang dikenal Gereja Bunda Perawan Murni Maria. Disebutkan juga di dekat Barus terdapat desa tua yang dinamakan Desa Janji Mariah.
Dari uraian tersebut maka dapat dijelskan bahawa agama Kristen (Katolik dan Protestan) masuk dengan cara damai melalui kegiatan pelayaran dan perdagangan. Agama ini tumbuh di daerah-daerah pantai di Semenanjung Malaya dan juga pantai barat di Sumatera. Penganut agama kristen hidup dikota-kota pelabuhan sambil beraktivitas sebagai pedagang. Mereka kemudian juga membuat pemukiman di daerah itu.
Kedua, dengan datangnya bangsa Barat ke Indonesia pada abad ke 16.Kedatangan bangsa semakin mempercepat penyebaran agama Kristen ke Indonesia. Telah diterangakan bahwa pada abad ke 16 telah terjadi penjelajahan samudera untuk menemukan dunia baru oleh karena itu zaman ini sering disebut The Age of Discovery dengan semboyan gold, glory, gospel telah memotivasi dan semboyan itu maka penyebaran agama Kristen oleh orang Portugis tidak terlepas dari kepentingan ekonomi dan politik. Setelah menguasai Malaka tahun 1511 Portugis kemudian meluaskan ekploitasi ke Kepulauan Maluku dengan maksud memburu rempah-rempah. Pada tahun 1512 pertama kali bangsa Portugis mendarat di Hitu (Ambon) Kepulauan Maluku. Pada waktu itu perdagangan di Pulau Igis ramai. Melalui perdagangan itu pula Islam sudah berkembang di Maluku. Kemudian bangsa Portugis datang untuk menyebarkan agama Katolik dibeberapa daerah di Kepulauan Maluku. Para penyebar agama Katolik di awali oleh para pastor (padre berarti imam dalam bahasa Portugis). Pastor yang terkenal adalah Pastor Franciscus Xaverius SJ dari ordo Yesuit dan Metteo Ricci. Ia aktif mengunjungi desa-desa sepanjang Pantai Leitimor, Kepulauan Lease, Pulau Ternate, Halmahera Utara, dan Morotai. Franciscus Xaverius dan Motteo Ricci juga dikenal sebagai penyebar Katolik di India, Cina dan Jepang. Usaha penyebaran Katolik dilanjutkan oleh pastor lain. Kemudian di Nusa tenggara Timur seperti Flores, Solor, dan Timor agama Katolik berkembang tidak terputus sampai sekarang.
Berikutnya agama Kristen berkambang di Maluku terutama setelah VOC menguasai Ambon. Pada waktu itu para zending aktif menyebarkan agama baru ini dengan semangat piesme, yaitu menekankan pertobatan orang-orang Kristen. Penyebaran ini lebih intensif saat Raffles berkuasa. Katolik dan Kristen berkembang di Indonesia Timur. Beberapa penyebar agama Kristen terkenal dari negeri Belanda seperti Dr. Nomensen, Sbastian Danchaerts dan Heurnius yang berjasa di daerah Tapanuli, Ambon, Jakarta, Kalimantan, Sulawesi Selatan dan pulau lainnya.
Agama Katolik berkembang di Minahasa setelah Portugis singgah pada abad ke-16 yang dipimpin oleh pastor Diogo de Magelhaens dan Pedro de Mascarenhas. Peristiwa ini terjadi pada tahun 1563, yang dikatakan sebagai tahun masuknya Katolik di Sulawesi Utara. Tercatat pada waktu itu telah tercatat dan raja menyatakan masuk agama Katolik. Misalnya Raja Babotehu bersama1.500 rakyatnya telah di babtis oleh Magelhaens.

SEJARAH KRISTEN MASUK KE INDONESIA........


Kristen Katolik dibawa masuk ke Indonesia oleh bangsa Portugis, khususnya di pulau Flores dan Timor.

Kristen Protestan pertama kali diperkenalkan oleh bangsa Belanda pada abad ke-16 M dengan pengaruh ajaran Calvinis dan Lutheran. Wilayah penganut animisme di wilayah Indonesia bagian Timur, dan bagian lain, merupakan tujuan utama orang-orang Belanda, termasuk Maluku, Nusa Tenggara, Papua dan Kalimantan. Kemudian, Kristen menyebar melalui pelabuhan pantai Borneo, kaum misionarispun tiba di Toraja, Sulawesi. Wilayah Sumatera juga menjadi target para misionaris ketika itu, khususnya adalah orang-orang Batak, dimana banyak saat ini yang menjadi pemeluk Protestan.

[sunting] Umat Katolik Perintis di Indonesia: 645 - 1500
Agama Katolik untuk pertama kalinya masuk ke Indonesia pada bagian pertama abad ketujuh di Sumatera Barat. Fakta ini ditegaskan kembali oleh (Alm) Prof. Dr. Sucipto Wirjosuprapto. Untuk mengerti fakta ini perlulah penelitian dan rentetan berita dan kesaksian yang tersebar dalam jangka waktu dan tempat yang lebih luas. Berita tersebut dapat dibaca dalam sejarah kuno karangan seorang ahli sejarah Shaykh Abu Salih al-Armini yang menulis buku "Daftar berita-berita tentang Gereja-gereja dan pertapaan dari provinsi Mesir dan tanah-tanah di luarnya". yang memuat berita tentang 707 gereja dan 181 pertapaan Serani yang tersebar di Mesir, Nubia, Abbessinia, Afrika Barat, Spanyol, Arabia, India dan Indonesia.

Dengan terus dilakukan penyelidikan berita dari Abu Salih al-Armini kita dapat mengambil kesimpulan kota Barus yang dahulu disebut Pancur dan saat ini terletak di dalam Keuskupan Sibolga di Sumatera Barat adalah tempat kediaman umat Katolik tertua di Indonesia. Di Barus juga telah berdiri sebuah Gereja dengan nama Gereja Bunda Perawan Murni Maria (Gereja Katolik Indonesia seri 1, diterbitkan oleh KWI)

[sunting] Awal Mula: abad ke-14 sampai abad ke-18
Dan selanjutnya abad ke-14 dan ke-15 entah sebagai kelanjutan umat di Barus atau bukan ternyata ada kesaksian bahwa abad ke-14 dan ke-15 telah ada umat Katolik di Sumatera Selatan.

Kristen Katolik tiba di Indonesia saat kedatangan bangsa Portugis yang berdagang rempah-rempah.

Banyak orang Portugis yang memiliki tujuan untuk menyebarkan agama Katolik Roma di Indonesia, dimulai dari kepulauan Maluku pada tahun 1534. Antara tahun 1546 dan 1547, pelopor misionaris Kristen, Fransiskus Xaverius, mengunjungi pulau itu dan membaptiskan beberapa ribu penduduk setempat.

Selama masa VOC, banyak praktisi paham Katolik Roma yang jatuh, dalam hal kaitan kebijakan VOC yang mengutuk agama itu. Yang paling tampak adalah di Flores dan Timor Timur, dimana VOC berpusat. Lebih dari itu, para imam Katolik Roma telah dikirim ke penjara atau dihukum dan digantikan oleh para imam Protestan dari Belanda.Seorang imam Katolik Roma telah dieksekusi karena merayakan misa kudus di suatu penjara semasa Jan Pieterszoon Coen menjabat sebagai gubernur Hindia Belanda.

Pada tahun 2006, 3% dari penduduk Indonesia adalah Katolik, lebih kecil dibandingkan para penganut Protestan. Mereka kebanyakan tinggal di Papua dan Flores.

[sunting] Kristen Protestan
Kristen Protestan berkembang di Indonesia selama masa kolonial Belanda (VOC), pada sekitar abad ke-16. Kebijakan VOC yang mengutuk paham Katolik dengan sukses berhasil meningkatkan jumlah penganut paham Protestan di Indonesia. Agama ini berkembang dengan sangat pesat di abad ke-20, yang ditandai oleh kedatangan para misionaris dari Eopa ke beberapa wilayah di Indonesia, seperti di wilayah barat Papua dan lebih sedikit di kepulauan Sunda. Pada 1965, ketika terjadi perebutan kekuasaan, orang-orang tidak beragama dianggap sebagai orang-orang yang tidak ber-Tuhan, dan karenanya tidak mendapatkan hak-haknya yang penuh sebagai warganegara. Sebagai hasilnya, gereja Protestan mengalami suatu pertumbuhan anggota, sebagian besar dari mereka merasa gelisah atas cita-cita politik partai Islam.

Protestan membentuk suatu perkumpulan minoritas penting di beberapa wilayah. Sebagai contoh, di pulau Sulawesi, 17% penduduknya adalah Protestan, terutama di Tana Toraja dan Sulawesi Tengah. Sekitar 65% penduduk di Tana Toraja adalah Protestan. dibeberapa wilayah, keseluruhan desa atau kampung memiliki sebutan berbeda terhadap aliran Protestan ini, seperti Adventist atau Bala Keselamatan, tergantung pada keberhasilan aktivitas para misionaris.

Di Indonesia, terdapat dua provinsi yang mayoritas penduduknya adalah Protestan, yaitu Papua dan Sulawesi Utara, dengan 60% dan 64% dari jumlah penduduk.Di Papua, ajaran Protestan telah dipraktikkan secara baik oleh penduduk asli. Di Sulawesi Utara, kaum Minahasa yang berpusat di sekeliling Manado, berpindah agama ke Protestan pada sekitar abad ke-19. Saat ini, kebanyakan dari penduduk asli Sulawesi Utara menjalankan beberapa aliran Protestan. Selain itu, para transmigran dari pulau Jawa dan Madura yang beragama Islam juga mulai berdatangan. Pada tahun 2006, lima persen dari jumlah penduduk Indonesia adalah penganut Kristen Protestan.
1. Awal agama Kristen:
Awal adanya agama Kristen diperkirakan dimulai pada pertengahan abad ke 7. Sumber-sumber tua berbahasa Arab memberitakan tentang adanya umat Kristen di Sumatra Utara. Menurut sumber-sumber lainnya dalam bahasa Arab diberitakan bahwa ada banyak gereja dalam kurun waktu ini, dan salah satu gereja dipersembahkan untuk Perawan Maria. Kenyataan ini bisa dipastikan, karena abad ke 7 adalah jaman perkembangan misi penyebaran agama di Timur Jauh.
Dalam tahun-tahun berikutnya datang semakin banyak penyebar agama dari Arab dan Persia lewat jalan Asia Tengah, sebagian dari mereka mengikuti jalan dagang lain ke Timur Jauh, yang melalui Teluk Persia, laut India dan sampai ke pantai-pantai di Asia Tenggara. Pembawa agama Kristen adalah para pedagang ulet dari Persia, Syria, Arab dan Turki.
Antara abad ke 13 dan 14 datang beberapa anggota serikat fransiskan dalam perjalanan misi ke Cina, karena Cina sudah selalu menjadi tujuan misi katolik. Dalam perjalanan ke sana mereka singgah di Indonesia terutama di Pulau Sumatra. Hilangnya gereja-gereja kristen awal ini diperkirakan karena datangnya dan tersebarnya agama Islam di India dan Indonesia.
2. Misi masa Portugis:
Dengan munculnya orang Portugis di perairan asia pada abad ke 16 maka misi agama katolik selama masa kekuasaan kolonial portugis mulai disebarkan dan diperluas secara sistimatis di Indonesia. Karena dipengaruhi oleh ide perang salib mereka berusaha mengkristianisasi suku-suku bangsa yang mereka kuasai dan melawan kekuasaan islam yang membatasi dan menghalangi agama kristen dari eropa. ( Tiga G-Motif: Gold, Glory, Gospel = Motif ekonomi, politik dan agama).
Pembawa misi katolik adalah misionaris Franziskan, Jesuit dan Dominikan. Setelah menaklukkan Malakka pada tahun 1511 orang Portugis berangkat ke Indonsia Timur dan menguasai pulau-pulau kecil di Maluku seperti Amboina dan Ternate. Ternate menjadi pangkalan pertama kegiatan misi. Dalam tahun-tahun sesudahnya berlangsung upacara permandian secara masal sampai 7000 orang. Pada tahun1546 datang Franz Xaver ke Maluku dan mengatur kegiatan misi secara lebih baik dan lebih intensif, sehingga gereja muda semakin berkembang pesat sampai tahun 1560 dan jumlah orang yang dipermandikan mencapai 80.000.
Dari Maluku agama Kristen tersebar sampai ke Pulau Sulawesi, Solor, Flores dan Timor. Para pelaut Portugis membangun stasi-stasi misi di tempat mereka mendarat dan tinggal. Die pulau-pulau ini ada 25.000 orang yang dipermandikan. Perlawanan terhadap penguasa kolonial dilakukan oleh kaum Muslim, dan dalam persengketaan ini banyak orang kristen dan misionaris yang tewas sebagai martir.
Tugas misi dari kaum katolik Portugis yang berat ini semakin dipersulit lagi dengan kedatangan orang-orang Belanda yang beragama kalvinis ke Maluku. Orang-orang Portugis akhirnya didesak oleh orang-orang Belanda pada tahun 1613 ke luar dari Maluku dan dengan demikian berakhirlah misi katolik di Maluku.
3. Agama Kristen di bawah naungan bendera Belanda dalam abad ke 18 dan 19
Orang-orang Belanda muncul pada akhir abad ke 16 ke seluruh wilayah Indonesia. Pada tahun 1602 bergabunglah kelompok-kelompok dagang di Belanda menjadi sebuah Persekutuan Perdagangan dengan nama VOC (Vereinigte und Ost-Indische Companignien). Berdasarkan perjanjian dengan Negara Belanda mereka boleh membentuk pasukan sendiri, mengumumkan perang, membuat perjanjian dan mencetak mata uang sendiri. Berdasarkan perjanjian ini juga VOC harus melakukan segala sesuatu untuk menyebarkan agama Protestan. Yang patut diingat dalam hal ini bahwa perpindahan umat dari agama Katolik ke agama Protestan berlangsung tanpa kekacauan.
Di bawah pemerintahan VOC kegiatan agama katolik dilarang. Keadaan ini berubah setelah masa kekuasaan VOC berakhir pada akhir abad ke 18. Pada tanggal 1 Januari 1800 Negara Belanda mengambil alih VOC yang telah bangkrut. Dengan demikian Indonesia menjadi koloni Negara Belanda. Tetapi pada waktu ini Negara Belanda juga berada di bawah kekuasaan Perancis yang menguasai Belanda 1795 dalam rangkaian Revolusi Perancis.
Penguasa Perancis memberikan kemungkinan bagi kebebasan beragama.Orang-orang katolik mengalami emansipasi hak secara penuh pada tahun 1798 di bawah pemerintahan Raja Lodewijk. Hermann Wilhelm Daendels, Gubernur Jenderal di Indonesia (1808-1811) mengumumkan kebebasan beragama pada tahun 1808. Dalam tahun ini juga datang dua imam projo Belanda J. Nelissen dan L. Prinsen ke Batavia (sekarang: Jakarta). Sesudah itu dibentuk Perfektur Indonesia pertama di Batavia. Dengan itu Gereja Katolik mempunyai wadah organisasi dan berkembang terus.
Segera sesudah itu pemerintah Belanda menghadapi persoalan persaingan antara agama Katolik dan Misi Protestan. Untuk mengatasi persoalan ini pemerintah Belanda mengeluarkan perarturan-peraturan baru yang melarang "misi ganda" (dubbele zending) dan memperbolehkan pembukaan wilayah-wilayah misi baru hanya melalu isinan pemerintah.
Dalam tahun-tahun berikutnya datang para misionaris dan mengambil alih stasi-stasi misi yang ditinggalkan oleh orang-orang Portugis (Flores dan Timor) dan mendirikan stasi-stasi misi baru di Flores, Kalimantan, Sumatra, Sulawesi, Seram dan Irian. Mereka memulai karya misi dalam bidang persekolahan dan rumah sakit. Banyak Perfektur dibentuk dan kemudian diangkat menjadi beberapa keuskupan.
4. Gereja-gereja Indonesia pada abad ke 20:
Pada tahun 1900 terhitung lebih dari 50.000 orang yang dipermandikan di seluruh wilayah kepulauan Indonesia. Walaupun situasi politik yang sering berubah seperti perang dunia pertama dan kedua, pengusiran orang-orang Belanda dan para misionaris barat oleh orang-orang Jepang dalam perang dunia kedua, perjuangan kemerdekaan Indonesia sampai Proklamasi 17. Agustus 1945, gereja-gereja Indonesia bertumbuh terus.
Pada tahun 1960 jumlah penganut agama Katolik 1,3 juta orang (1,3% dari jumlah penduduk seluruh Indonesia). Umat Katolik didampingi dan dilayani oleh 964 imam, 539 bruder dan 2472 suster. Dalam tahun 90-an ada 35 keuskupan katolik di seluruh Indonesia dan jumlah pemeluk agama Katolik dalam kurun waktu ini 7 juta orang, dan itu berarti 3,5% dari jumlah seluruh penduduk Indonesia. Jumlah penganut agama Kristen Protestan 12 juta orang, kira-kira 6% dari jumlah seluruh penduduk Indonesia.
Karena aktivitasnya di bidang persekolahan dan rumah sakit maka Gereja Katolik menjadi mitra kerja penting bagi negara dalam bidang sosial politik.
(Diambil dari: „Awal Mula Gereja Katolik Indonesia“ von Dr. P.M. Muskens, Ende 1974; „Der Weg nach Asien - Die Ostsyrische Missionskirche“ von W. Hage, München 1978; „Der Protestantismus in Indonesien“ von Th. Müller-Krüger, Stuttgart 1968; „Die katholische Missionschule in Nusa Tenggara-Südostindonesien“ von K. Piskaty, Steyl 1964; „Neue Dienste und Gemeindestrukturen in der kath. Kirche Indonesiens“ von G. Kirchberger, St. Augustin bei Bonn 1986; „Die Beziehung zwischen Christentum und Islam in der Geschichte Indonesiens und die Möglichkeit des Dialogs“ – Diplomarbeit von Aleksius Armanjaya, Mödling 1997).
5. Sebuah pandangan ke depan pada awal abad ke 21:
Hal-hal penting bagi gereja-gereja Indonesia untuk masa depan adalah dialog antar agama, bidang pendidikan sekolah dan universitas, lapangan kerja untuk kaum muda, peranan kaum awam, inkulturasi, hak-hak asasi manusia dan masalah lingkungan hidup.
Gereja-gereja Indonesia dihadapi dengan berbagai peristiwa dalam beberapa tahun terakhir: perubahan situasi politik sesudah era Presiden Soeharto sejak tahun 1997, serangan kaum teroris, bencana alam, pengangguran terutama pengangguran gererasi muda. Gereja-gereja Indonesia hidup menurut nilai-nilai Injil secara jelas dan konsekuen, kalau gereja-gereja ini betul membantu orang-orang miskin dan tertindas, turut aktif dalam pembangunan sistem ekonomi yang adil dan sosial, yang memperhatikan kelestarian lingkungan hidup dan martabat manusia, kalau gereja-gereja turut mencari penyelesaian damai dalam masalah-masalah antar agama dan dalam kehidupan bermasyarakat. Hanya dengan cara inilah gereja-gereja Indonesia bisa menjaga identitasnya dan menunjukkan profilnya sebagai pengikut dan penerus karya Jesus Kristus.
Telah diuraikan bahwa tujuan penjelajahan samudra oleh bangsa-bangsa Eropa, selain mencari dan merampas harta kekayaan seperti emas dan perak dari negeri-negeri yang mereka temukan, juga membujuk rakyat pribumi untuk memeluk agama kristen.
         Para pelaut spanyol dan portugis mengemban amanat khusus dari rakyat-rakyat mereka untuk membujuk rakyat pribumi memeluk agama katholik. Pada setiap kapal spanyol dan portugis selalu turut serta para paderi. Mereka disamping menjaga keselamat jiwa awak kapal, bertujuan juga menyebarkan agama nasrani di daerah-daerah yang mereka kunjungi. Penyebaran agama kristen di indonesia mengikuti gerakan pendudukan dan koloni bangsa barat.

1.    Penyebaran agama kristen di maluku
        Pada abad ke-16 bangsa potugis memperoleh kedudukan di maluku. Pada masa itu pula agama kristen (katholik) tumbuh diwilayah itu. Penyebar agama kristen khatolik di malaku ialah misi Yezuit dari spanyol, bernama Franciscus Xaverius. Ia berada di maluku selama satu tahun, yaitu antara bulan juni 1546 sampai april 1547. Penyebaran agama kristen itu dibarengi dengan gerakan sosial, yaitu meningkatkan kesehatan rakyat, menyelenggarakan pendidikan, dan sebagainya.
Kemudian datang pula paderi-paderi misi katholik ke halmahera, bacan, dan ambon. Selain itu bangsa belanda yang datang ke maluku pun menyebarkan agama kriten protestan. Bangsa belanda kadang-kadang memaksa orang-orang yang telah memeluk agama katholik untuk pindah ke agama protestan.

2.    Penyebaran agama kriten di pulau jawa
        Di pulau jawa pertumbuhan dan perkembangan agama kristen terjadi terutama pada abad ke-19. Seperti dalam proses penyebaran agama islam, penyebaran agama kristen dipulau jawa melalui pusat-pusat penyebaran. Pusat penyebaran pertama adalah di jawa timur. Dekat jombang terdapat desa-desa kristen, yaitu ngoro dan mojowarno. Di mojowarno bekerja seorang missionaris perintis di jawa, bernama jellesma (1851-1858). Desa-desa kristen itu dijadikan model percontohan oleh missionaris sampai awal abad ke-20.
         Semarang dan sekitarnya merupakan pusat penyebaran kristen kedua. Di semarang bekerja tiga orang missionaris belanda ialah Bruckner, Hoezoo, dan Jansz. Penyebaran agama kristen di jawa tengah lebih berhasil dibagian selatan dari pada dibagian utara. Di jawa tengah, agama kristen tumbuh di salatiga, purworejo, probolinggo, banyumas, magelang, ambarawa, cilacap, wonosobo, dan kebumen.
“masyarakat kristen itu merupakan kelompok minoritas, yang tenggelam dalam massa pemeluk islam, tapi cukup terbina oleh missionaris”
        Pertumbuhan agama kristen di jawa tengah diperkuat dengan adanya permukiman-permukiman bangsa belanda. Orang-orang belanda pengusaha swasta, pegawai pemerintah atau militer mempunyai pemukiman  di kota-kota di jawa tengah bagian selatan.
         Pada masa perang diponegoro timbul kota-kota garnisun tentara belanda, seperti purworejo, magelang, ambarawa, dan cilacap. Lain dari pada itu timbul pula kota-kota administrasi dan kota perkebunan seperti wonosobo, kebumen dan banyumas. Masyarakat belanda di kota-kota tersebut mendirikan gereja-gereja sendiri, yaitu gereja protestan.

3.    Penyebaran agama kristen di tanah batak

          Daerah batak terletak di antara dua daerah yang kuat, yaitu aceh dan minangkabau. Masyarakat batak sebagian besar masih menganut kepercayaan nenek moyang, karena proses islamisasi tidak sampai kepedalaman. Oleh sebab itu tanah batak dianggap baik untuk menyebarkan agama kristen. Untuk kepentingan penyebaran injil, pada tahun 1849 ditugaskan Dr N. Van der Tuuk yang dikirim ke daerah pedalaman batak dan memulai tugasnya di barus. Setelah melalui berbagai kesulitan ia berhasil menyusul ke daerah pedalaman dan daerah toba.
Sejak tahun 1860 misi kristen mulai banyak yang masuk kedaerah silindung dan toba. Pos-pos sending berdiri di beberapa tempat di kedua daerah itu.
“penyebaran agama kristen di tanah batak merupakan permulaan masuknya penjajah belanda di situ”
        Sekitar tahun 1877 sisingamang araja XII mengadakan kampanye anti kristen dan menganjurkan kepada rakyatnya agar mengusir zending-zending kristen. Terjadi penyerangan terhadap pos-pos zending dengan mengadakan perusakan-perusakan atau pembakaran.
Mendengar keadaan itu pos militer belanda di sibolga mengirim pasukan ke silindung pada tanggal 8 januari 1978, dengan bergeraknya pasukan belanda ke pedalaman silindung, berarti belanda memulai gerakan penaklukannya.
 http://zhasriani.blogspot.co.id/2014/12/proses-masuknya-agama-kristen-di.html

Sejarah Tari Tor-tor Sumatera Utara

"Tor-tor" berasal dari suara entakan kaki penarinya di atas papan rumah adat Batak. Penari bergerak dengan iringan Gondang.

Mengupas Sejarah dan Makna Tari Tor-TorTari Tor-tor dari Sumatra Utara, ditampilkan saat ada ritual panen, kematian, dan penyembuhan. Wujudnya mulai bertransformasi di wilayah perkotaan karena menjadi tontonan, tidak semua yang melihatnya ikut terlibat (Irsan Mulyadi/Fotokita.net)
Melimpahnya kebudayaan Indonesia terlihat dari beragamnya bentuk pertunjukan, tarian, alat musik, dan pakaian. Bukan hal mudah untuk menciptakannya karena harus mencurahkan akal budi dan daya upaya masyarakat suatu wilayah. Wajar jika kemudian terjadi perdebatan panjang saat Tari Tor-tor dan Gordang Sembilan (Gondang Sembilan) dari Mandailing, Sumatra Utara, dinyatakan akan menjadi hak cipta Malaysia.
Menurut Togarma Naibaho, pendiri Sanggar budaya Batak, Gorga, kata "Tor-tor" berasal dari suara entakan kaki penarinya di atas papan rumah adat Batak. Penari bergerak dengan iringan Gondang yang juga berirama mengentak. "Tujuan tarian ini dulu untuk upacara kematian, panen, penyembuhan, dan pesta muda-mudi. Dan tarian ini memiliki proses ritual yang harus dilalui," kata Togarma kepada National Geographic Indonesia, Selasa (19/6).
Pesan ritual itu, lanjut Togarma, ada tiga yang utama. Yakni takut dan taat pada Tuhan, sebelum tari dimulai harus ada musik persembahan pada Yang Maha Esa. Kemudian dilanjutkan pesan ritual untuk leluhur dan orang-orang masih hidup yang dihormati. Terakhir, pesan untuk khalayak ramai yang hadir dalam upacara. Barulah dilanjutkan ke tema apa dalam upacara itu.
"Makna tarian ini ada tiga, selain untuk ritual juga untuk penyemangat jiwa. Seperti makanan untuk jiwa. Makna terakhir sebagai sarana untuk menghibur," imbuh mantan pengajar Seni Rupa dan Desain di Universitas Trisakti, Jakarta itu.
tari tortor,sumatra utaraTari Tor-tor dari Sumatra Utara. Tarian ditampilkan dengan maksud membangkitkan jiwa yang ada dalam diri manusia. (Feri Latief)
Durasi Tari Tor-tor bervariasi, mulai dari tiga hingga sepuluh menit. Di tanah Batak, hal ini tergantung dari permintaan satu rombongan yang mau menyampaikan suatu hal ke rombongan lain. Dimintalah satu buah lagu pada pemusik. Jika maksud sudah tersampaikan, barulah tarian dihentikan.
Tarian ini akhirnya bertransformasi di Ibu Kota karena mulai ditampilkan di upacara perkawinan. Jika sudah sampai di upacara ini, bentuknya bukan lagi ritual melainkan hiburan. Karena menjadi tontonan dan tidak semua yang hadir ikut terlibat dalam tarian tersebut.
Memang belum ada buku yang mendeskripsikan rekam sejarah Tari Tor-tor dan Gondang Sembilan. Namun, ditambahkan oleh Guru Besar Tari Universitas Indonesia Edi Sedyawati, sudah ada pencatatan hasil perjalanan di zaman kolonial yang mendeskripsikan Tari Tor-tor.
Meski demikian, sama seperti kebudayaan di dunia ini, Tari Tor-tor juga mengalami pengaruh dari luar yaitu India. Bahkan jika ditelusuri lebih jauh pengaruhnya bisa tercatat hingga ke Babilonia.
Gondang Sembilan
Tari Tor-tor selalu ditampilkan dengan tabuhan Gondang Sembilan. Warga Mandailing biasanya menyebutnya Gordang Sembilan, sesuai dengan jumlah gendang yang ditabuh.
Jumlah gendang ini merupakan yang terbanyak di wilayah Suku Batak. Karena gendang di wilayah lainnya seperti Batak Pakpak hanya delapan buah, Batak Simalungun tujuh buah, Toba enam buah, dan di Batak Karo tingga tersisa dua buah gendang.
Menurut analisa Togarma, banyaknya jumlah gendang ini ada hubungannya dengan pengaruh Islam di Mandailing. Di mana besarnya gendang hampir sama dengan besar bedug yang ada di masjid. "Ada kesejajaran dengan agama Islam. Bunyi gendangnya pun mirip seperti bedug."
Gendang ini juga punya ciri khas lain yakni pelantun yang disebut Maronang onang. Si pelantun ini biasanya dari kaum lelaki yang bersenandung syair tentang sejarah seseorang, doa, dan berkat. "Senandungnya sesuai dengan apa yang diharapkan oleh komunitas peminta acara," imbuh Togarma.
Sayangnya keindahan budaya Tari Tor-tor dan Gondang Sembilan ternoda dengan kurangnya penghargaan. Sulit mencari pihak yang mau membiayai pagelaran budaya ini, terutama di Ibu Kota. Hanya karena pejuang-pejuang seni Batak, Tari Toro-tor dan Gondang ini masih tumbuh dan terlihat keberadannya.
"Kebudayaan itu pengisi batin, bagian dari kehidupan. Karena hidup tidak cukup dengan makan saja, jiwa juga harus terisi seni," ujar Togarma.
 http://nationalgeographic.co.id/berita/2012/06/mengupas-sejarah-dan-makna-tari-tor-tor

Resep Mie Gomak Khas Batak

 
Bahan mie gomak :

  • 300 gram mie lidi, rebus hingga matang
Bahan kuah mie gomak :
  • 1/2 kg daging dada ayam, potong dadu ukuran 1 cm
  • 3 sendok makan minyak sayur
  • 3 batang serai memarkan
  • 70 gram kecombrang, rebus kemudian haluskan
  • 1,5 liter santan encer terbuat dari 1 butir kelapa parut
  • 2 sendok makan koya kelapa
  • 6 lembar daun jeruk purut 
  • 3 buah tomat merah, potong dadu
  • 50 gram kacang tanah goreng, tumbuk halus
  • 3 batang daun bawang iris halus
  • 2 sendok makan andaliman, halsukan
Bumbu yang dihaluskan :
  • 5 buah cabai rawit merah
  • 4 siung bawang putih
  • 2 cm jahe
  • 3 cm kunyit
  • 12 butir bawang merah
  • 5 buah cabai merah
Cara membuat mie gomak :
  1. Untuk membuat kuah : panaskan sedikit minyak, lalu tumis  bumbu yang telah di haluskan bersama dengan daun jeruk dan serai hingga harum
  2. Tambahkan dengan daging ayam, lalu masak hingga daging ayam berubah warna
  3. Masukkan santan yang encer, lalu masak hingga mendidih
  4. Masukkan andaliman, kecombrang dan santan yang kental, aduk hingga rata dan mendidih
  5. Masukakn tomat, daun bawang dan kacang tanah, aduk rata dan segera angkat
  6. Untuk penyajian, tata mie lidi di dalam mangkuk atau piring saji, lalu siram dengan kuah panas dan sajikan segera

Sejarah Hari Kesaktian Pancasila

Hari Kesaktian Pancasila - Hari Kesaktian Pancasila / Hari Pancasila selalu di peringati pada tanggal 1 Oktober, Sejarah hari Kesaktian Pancasila tidak bisa dilepaskan dari terjadinya peristiwa pemberontakan G30SPKI yang kabarnya didalangi oleh PKI (Partai Komunis Indonesia).
Monumen Pancasila Sakti, hari pancasila, hari Kesaktian pancasila, tanggal kesaktian pancasila, sejarah kesaktian pancasila
Monumen Pancasila Sakti
Terjadinya Gerakan G30SPKI
Gerakan G30SPKI sendiri terjadi pada tanggal 30-September-1965 tepatnya saat malam hari. Insiden G30SPKI sendiri masih menjadi perdebatan kalangan akademisi mengenai siapa penggiatnya dan apa motif yang melatar belakanginya. Akan tetapi kelompok reliji terbesar saat itu dan otoritas militer menyebarkan kabar bahwa insiden tersebut merupakan ulah PKI yang bertujuan untuk mengubah unsur Pancasila menjadi ideologi komunis.

Sedangkan Menurut versi Orde Baru gerakan ini dilakukan oleh sekelompok pasukan yang diketahui sebagai pasukan Cakrabirawa, yaitu pasukan pengawal presiden yang melakukan aksi pembunuhan dan penculikan kepada Enam (6) jenderal senior TNI AD (Angkatan Darat).
Tiga Jenderal yaitu: MT Haryono, Ahmad Yani dan DI Panjaitan tewas di tempat. Sedangkan Tiga Jenderal lainnya seperti Sutoyo Siswomiharjo, Soeprapto dan S. Parman di bawa oleh para pemberontak dalam kondisi hidup.
Salah satu jenderal yang menjadi sasaran utama pemberontak (PKI) adalah jenderal TNI Abdul Haris Nasution (AH Nasution), namun beliau dapat selamat dari peristiwa maut tersebut. Tetapi putri dari sang jenderal serta Ajudan sang jenderal (Pierre Tendean) harus rela menjadi korban dan tewas atas kebiadaban PKI. semula PKI mengira Pierre Tendean (Ajudan Jenderal AH Nasution) ini sebagai jenderal AH Nasution namun ternyata salah.
Foto Lubang Buaya, hari pancasila, hari Kesaktian pancasila, tanggal kesaktian pancasila, sejarah kesaktian pancasila
Foto Lubang Buaya
Para jenderal yang dibawa dalam kondisi hidup (Sutoyo Siswomiharjo, Soeprapto dan S. Parman) kemudian mengalami penyiksaan yang tidak manusiawi. Mereka disiksa secara biadab seakan mereka bukan manusia. Dan setelah para jenderal ini gugur jasad mereka kemudian dibuang oleh PKI ke dalam sebuah lubang yang kemudian di kenal dengan sebutan Lubang Buaya, kemudian setelah itu bagian atas lubang buaya mereka tutupi dengan pohon pisang.
Sesudah melakukan aksi pembantaian tersebut, pemberontak yang disebut-sebut diotaki oleh PKI berhasil menguasai Studio RRI (Radio Republik Indonesia) dan juga Kantor Telekomunikasi. Letkol Untung yang merupakan salah satu bagian dari pemberontak (PKI) melalui RRI mengumumkan terbentuknya 'Dewan Revolusi' dan mengumumkan telah berhasil menghentikan upaya 'Dewan Jenderal' yang disematkan pada jenderal TNI Angkatan Darat yang mau melakukan kudeta terhadap pemerintah.
Mayor Jendral Soeharto (Mantan Presiden) yang saat itu menjabat seorang jenderal namanya tidak tercantum dalam daftar tokoh yang harus dimusnahkan oleh pemberontak. Sehingga Soeharto mendapatkan kesempatan untuk memegang kendali komando dan membuat beberapa kebijakan strategi penting yang kemudian berhasil merebut kembali Jakarta dari genggaman pemberontak (PKI) Dalam tempo sehari, sehingga upaya pembentukan 'Dewan Revolusi' dapat digagalkan.
Setelah itu pada tanggal 1-Oktober-1965 tepatnya pada pukul 20.15 WIB, Dinas Penerangan TNI Angkatan Darat melalui RRI (Radio Republik Indonesia) memberitahukan bahwa telah terjadi gerakan Kontra Revolusi yang berhasil menculik 6 jenderal senior Angkatan Darat (TNI AD). namun situasi dapat dikuasai kembali oleh pimpinan Angkatan Darat yang kala itu berada di tangan Mayor Jendral Soeharto, dan kemudian Tepat pada jam 21.00 WIB  (9 malam) pada 1-Oktober-1965 pemerintah lewat Mayor Jendral Soeharto mengumumkan PKI di Indonesia berhasil di tumpas. Dan akhirnya sejarah tanggal 1 Oktober di kenang sebagai Hari Kesaktian Pancasila, dan untuk mengenang 7 jenderal yang menjadi korban keganasan PKI pemerintah membangun Monumen Pancasila Sakti.
Beberapa jendral dan korban lainnya yang menjadi kebrutalan aksi G30SPKI saat itu yakni:
  • Mayor Jendral Mas Tirtodarmo Haryono.
  • Letnan Jendral (Letjen) Anumerta Ahmad Yani.
  • Brigadir Jendral Sutoyo Siswodiharjo.
  • Brigadir Jendral Donald Isaac Panjaitan.
  • Mayor Jendral (Mayjen) Raden Soeprapto.
  • Mayjen Siswondo Parman.
  • Brigadir Polisi Ketua Karel Satsuit Tubun.
  • Ade Irma Suryani Nasution (Putri Abdul Haris Nasution).
  • Kapten Lettu Pierre Andreas Tendean (Ajudan Abdul Haris Nasution).
  • Letnan Kolonel Sugiyono Mangunwiyoto (Korban G30SPKI di Yogyakarta).
  • Kolonel Katamso Darmokusumo (Korban G30SPKI di Yogyakarta).
Untuk sekedar informasi, Hari Kesaktian Pancasila berbeda dengan Hari Lahirnya Pancasila, Hari Lahirnya Pancasila merupakan hari dimana Pancasila pertama kali diperdengarkan kepada umum. Yaitu Pada tanggal 1 Juni 1945, saat Soekarno mengusulkan nama dasar negara kita dengan nama Pancasila. Sedangkan Hari Kesaktian Pancasila adalah hari dimana Pancasila dianggap sebagai dasar negara yang tak tergantikan dan berhubungan dengan peristiwa G30SPKI.
Sekian Artikel tentang Sejarah Hari Kesaktian Pancasila, semoga artikel diatas dapat bermanfaat bagi sobat MARKIJAR.Com khusunya dalam mengingat dan memaknai sejarah Hari Pancasila / Hari Kesaktian Pancasila yang kita peringati setiap tanggal 1 Oktober.
http://www.markijar.com/2015/10/sejarah-hari-kesaktian-pancasila-lengkap.html

Sejarah Hari Guru Nasional

 
 Guru ku pak Rasimin 
JAKARTA - Berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 78 Tahun 1994, 25 November adalah Hari Guru Nasional. Di satu hari spesial ini, para guru mendapat sorotan lebih; karya mereka diapresiasi, perjuangan mereka diakui, kesejahteraan mereka diperhatikan.
Pengakuan keberadaan guru melalui penetapan Hari Guru Nasional sendiri memiliki sejarah panjang. Jika menilik catatan masa lalu, momentum ini bermula dengan perjuangan para guru Tanah Air melalui Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB) pada 1912. Di masa kolonial, organisasi unitaristik ini beranggotakan para guru bantu, guru desa, kepala sekolah, dan pemilik sekolah. Umumnya mereka bertugas di Sekolah Desa dan Sekolah Rakyat Angka Dua. Di masa yang sama, berkembang juga organisasi guru dengan beragam latar belakang seperti keagamaan, kebangsaan, dan lainnya.
Nama PGHB berubah menjadi Persatuan Guru Indonesia (PGI) sekira dua dekade kemudian. Penambahan kata "Indonesia" mengejutkan dan menciutkan pemerintah Belanda. Pasalnya, kata tersebut mencerminkan semangat kebangsaan.
Berawal dari situlah, kesadaran kebangsaan dan semangat perjuangan kian membuncah. Keduanya mendorong para guru pribumi memperjuangkan persamaan hak dan posisi dengan pihak Belanda. Secara bertahap, jabatan Kepala HIS yang dulu selalu dipegang orang Belanda, mulai diambil alih orang Indonesia. Akhirnya, terbitlah cita-cita kesadaran bahwa perjuangan para guru Indonesia tak lagi tentang perbaikan nasib maupun kesamaan hak dan posisi dengan Belanda, tetapi memuncak menjadi perjuangan nasional dengan teriak "Merdeka!"
PGI dibungkam oleh Jepang. Pada masa tersebut, pemerintah Jepang melarang semua organisasi dan menutup semua sekolah.
Barulah setelah proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, PGI kembali menggeliat. Mereka menggelar Kongres Guru Indonesia pada 24–25 November 1945 di Surakarta.
Serupa dengan Sumpah Pemuda, semangat persatuan mendasari pelaksanaan Kongres Guru Indonesia tersebut. Para peserta kongres sepakat menghapuskan semua organisasi dan kelompok guru berlatar belakang perbedaan tamatan, lingkungan pekerjaan, lingkungan daerah, politik, agama, dan suku. Inilah cikal bakal bersatunya guru-guru yang aktif mengajar, pensiunan yang aktif berjuang, dan pegawai pendidikan Republik Indonesia yang baru dibentuk.
Mereka akhirnya menginisiasi kelahiran Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) pada 25 November 1945. Dan sejak saat itu, pemerintah menetapkan hari lahir PGRI sebagai Hari Guru Nasional dan menjadikannya momentum penghormatan kepada para pahlawan tanpa tanda jasa di Tanah

Air.http://news.okezone.com/read/2015/11/25/65/1255330/menilik-sejarah-hari-guru-nasional

Resep Kue Lapis Legit

Resep Kue Lapis Legit

Resep kue lapis legit
Bahan :
– 600 gram Orchid butter, kocok
– 300 gram gula pasir
– 100 gram tepung terigu
– 30 butir kuning telur
– 3 sendok makan susu kental manis
– 1 sendok makan bumbu kue lapis (dapat dibeli di toko dan supermarket)
– 1/2 sendok teh vanila

Cara Membuat :
  1. Pertama-tama kocoklah kuning telur, gula dan vanila hingga naik dan mengembang.
  2. Setelah itu masukkan bumbu kue lapis dan tepung terigu, kemudian masukkan mentega atau orchid butter yang telah dikocok terlebih dahulu.
  3. Selanjutnya siapkan panggangan dengan suhu 200 derajat celcius.
  4. Sambil menunggu, sahabat dapat menggunakan loyang yang berukuran 20x20x8 centimeter. Lalu tidak lupa juga dasar loyang tersebut dioleskan mentega, kemudian taruh kertas roti diatasnya dan dioles sekali lagi diatasnya agar tidak lengket.
  5. Setelah siap masukkan 3 hingga 4 sendok makan adonan kue lapis tersebut, lalu panggang selama 5 menit.
  6. Jika kue lapis sudah berwarna kuning, poles loyang dengan mentega kocok, lalu ditekan-tekan kue lapis tadi yang telah matang. Kemduian masukkan lagi 3 hingga 4 sendok makan adonan dan panggang kembali. Ulangi terus cara tersebut hingga adonan kue lapis habis.
    Jika adonan tersebut sudah habis, sediakan kertas roti untuk alas kue lapis yang telah matang tadi.
  7. Loyang yang berisi kue lapis dapat dibalik diatas kertas roti tersebut.
  8. Setelah selesai, potong-potong kue lapis legit sesuai selera.
  9. Kue lapis legit siap untuk dihidangkan.

Minggu, 22 November 2015

rumah kapal

 

Bangunan yang kini tinggal puing-puingnya saja di jalan Rasuna Said, Teluk Betung Utara, Bandar Lampung ini, oleh masyarakat setempat menyebutnya tempat angker.  Puing-puing tersebut merupakan sisa bangunan rumah yang berbentuk kapal. Oleh sebab itu masyarakat menyebutnya rumah kapal.

Rumah dulunya memiliki bentuk unik itu  menyimpan banyak misteri dan juga muncul kabar cerita tentang penampakan yang membuat terjadinya kecelakan di jalan dekat rumah kapal tersebut. Kini rumah itu juga dijadikan tempat pemujaan bagi kepada mahluk gaib,untuk meminta pesugihan.

Bangunan yang berdiri sejak jaman Belanda, tetapi kini tinggal menyisakan kemegahannya ini masih memiliki kesan mistik dan angker. Dulunya  orang yang menempati rumah itu selalu mendapat ganguan dari mahluk gaib, hal itu menjadikan rumah itu tidak ada yang berani mendiami hingga tak terawat.

Bahkan keangkeran sampai di jalan dekat rumah itu. kecelakan kerap terjadi. Karena para pengguna jalan terkadang melihat penampakan sosok tinggi besar dan kejadian-kejadian ganjil.yang menyebabkan kecelakaan.

Sosok naga besar, siluman kelelawar, harimau dan ular yang dipercai menjadi penghuni rumah tersebut dan sering menampakan diri di sekitar rumah. Hal itu yang membuat warga sekitar tak berani lagi untuk mendekat.